CCTV

Minggu, 23 Februari 2014

Wisata Alam Taman Rusa Dipadati Pengunjung




Seorang wargadan anknya sedang mengamatii seekor Bunglong, di lokasi Wisata Alam Taman Rusa, Sibreh, Aceh Besar. AtjehLINK/sd
Seorang pengunjung menemani anaknya mengamatii seekor Bunglong di lokasi Wisata Alam Taman Rusa, Sibreh, Aceh Besar. | AtjehLINK/sd
Aceh Besar – Wisata Alam Taman Rusa, Sibreh, Aceh Besar, dipadati warga yang berlibur akhir pekan, Minggu (12/01/2014). Umunya para pengunjung adalah warga Kota Banda Aceh dan Aceh Besar.
Pantauan AtjehLINK, sejak pagi hari, ribuan warga yang datang bersama keluarga dan kerabat sudah memadati areal wisata alam yang dilengkapi dengan sejumlah fasilitas dan permainan anak-anak ini.
Letaknya di kaki bukit barisan, membuat lokasi wisata ini nyaman bagi warga yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga. Selain itu, untuk menjangkau tempat ini hanya butuh waktu sekitar 45 menit dari Kota Banda Aceh.
Sejumlah fasilitas yang tersedia di tempat ini antara lain kolam renang, bebek dayung, pemancingan dan beberapa fasilitas permainan anak lainnya.
Tak hanya itu, di lokasi wisata taman rusa Sibreh ini, juga terdapat kebun binatang mini. Di dalamnya terdapat beberapa hewan diantaranya rusa, beruang, landak, kura- kura dan beberapa jenis marga satwa lainnya.
Berkunjung ke lokasi Wisata Alam Taman Rusa yang memiliki luasan beberapa hektar ini, akan dikenakan karcis masuk sebesar Rp 10.000 pada hari Minggu untuk orang dewasa dan Rp 5.000 untuk anak- anak. Sedangkan pada hari- hari biasa dikutip Rp 5.00o per orang, baik dewasa maupun anak- anak.
Sebelum masuk ke areal wisata, anda juga dikenakan tarif parkir Rp 2.000 per kenderaan. Tentunya, untuk menikmati berbagai fasilitas di dalamnya, anda juga harus mengeluarkan biaya lain. Contohnya, untuk menikmati kolam renang akan dipungut Rp 10.000 per orang. Menikmati mainan dayung bebek di sungai buatan yang mengitarai lokasi wisata ini, juga dikenakan Rp 5.000. Begitu juga dengan berbagai fasilitas permainan anak lainnya.
Selain itu, di tempat ini juga tersedia berbagai macam kuliner. Anda juga disediakan tempat beristirahat berupa ratusan pondok di dalam lokasi wisata ini. Bagi umat Muslim, juga tersedia fasilitas ibadah.
Ardhi, salah seorang warga yang ditanya AtjehLINK mengaku, ia dan kelurganya datang dari Kota Banda Aceh ke Wisata Alam Taman Rusa bersama anggota keluarganya. Menurut penuturannya, ini adalah kunjungan pertama Ardhi dan keluarganya ke tempat tersebut. Ia dan keluarganya mengaku senang berkunjung ke tempat itu.
“Tempat ini bagus sebagai sebuah taman wisata. Selain punya berbagai fasilitas bermain anak- anak. Letaknya juga gak terlalu jauh dari Kota Banda Aceh. Kawasannya juga masih lumayan asri,” ujar Ardhi yang mengaku tinggal di Peulanggahan, Kota Banda Aceh.
Hanya saja kata Ardhi, sejumlah hewan yang ada dalam kebun binatang tersebut, sepertinya masih kurang terpelihara. “Seperti kerangkeng beberapa hewan, menurut saya masih berukuran kecil. Sehingga gerak para hewan dalam kerangkeng sangat terbatas. Areal untuk sejumlah Rusa ini menurut saya juga masih kecil,” tuturnya.
“Kiranya pengelola lebih memperhatikan kebun binatang ini, agar hewan- hewan ini bisa tumbuh sehat meskipun dikurung,” saran Ardhi. (Sd)

Sumber : http://atjehlink.com/wisata-alam-taman-rusa-dipadati-pengunjung/

Objek Wisata di Aceh Dibanjiri Warga Yang Berlibur


 

KBRN, Banda Aceh : Sejumlah objek wisata pantai yang ada di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar sepanjang Rabu (1/1/2014) dibanjiri oleh ribuan warga yang berlibur.
Kedatangan ribuan warga baik bersama  keluarga maupun secara berkelompok ke sejumlah objek wisata pantai sambil berlibur tersebut sehubungan dengan 1 Januari 2014 sebagai hari libur nasional memasuki tahun baru 2014.
Menurut pantauan RRI adapun sejumlah objek wisata pantai yang ramai dikunjungi warga diantaranya Pantai Ulee Lheue di Banda Aceh serta sejumlah pantai di Aceh Besar seperti Pantai Lhoknga, Lampuuk, Ujong Batee dan Pantai Ujong Kareung.
Diantara ribuan warga yang berlibur objek wisata ada yang memanfaatkan waktu untuk mandi-mandi di laut dan  ada juga yang hanya menghabiskan waktu untuk duduk sambil menikmati makanan baik yang dibawa maupun yang dijual di lokasi.
Seorang pengunjung Pantai Lampuuk Zahirsyah Oemardy kepada RRI menjelaskan, ramainya warga yang berlibur ke sejumlah objek wisata pantai karena 1 Januari 2014 adalah sebagai hari libur nasional dan kondisi yang sama juga terjadi pada hari libur lainnya.
Zahirsyah Oemardy mengakui, pada hari libur atau hari pertama memasuki tahun baru 2014 warga yang mendatangi objek wisata meningkat drastis kalau dibandingkan hari libur lain, hal itu terbukti dari banyaknya warga yang  parkir kenderaan baik kenderaan roda dua maupun roda empat.
Ia juga menyinggung tentang dari sejumlah objek wisata pantai yang telah dikunjungi khususnya di Aceh Besar belum maksimalnya fasilitas untuk kepentingan publik seperti toilet dan tempat sampah  yang masih sangat minim  juga sejumlah fasilitas lain.(Syahril Ahmad)
 http://rri.co.id/index.php/berita/84646/Objek-Wisata-di-Aceh-Dibanjiri-Warga-Yang-Berlibur#.UwnAm3-m4wo
Sumber : 

Pemkab Aceh Besar juga akan mewajibkan pelaksanaan salat berjamaah di tempat objek wisata

 
 
 
Lamurionline.com--Aceh Besar – Pemerintah Kabupaten Aceh Besar akan membangun fasilitas ibadah dan pemantau pengunjung di lokasi objek wisata di Aceh Besar.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kadis Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Aceh Besar, M Ali, saat memberikan materinya sebagai pada seminar refleksi 85 tahun sumpah pemuda di Gedung Kesenian Aceh Besar, Kota Jantho pada Minggu (27/10/2013) malam.
M Ali juga menyatakan Pemkab Aceh Besar juga akan mewajibkan pelaksanaan salat berjamaah di tempat objek wisata.
Wacana lain juga diutarakan oleh M Ali terkait keselamatan pengunjung wisata pantai yaitu rencana pembangunan tower patroli atau pemantau pengunjung pantai. “Hal tersebut karena seringnya kejadian kehilangan orang di lokasi wisata pantai saat mandi laut,” ujarnya.
Pembangunan tower tersebut direncanakan di beberapa lokasi objek wisata pantai yang rawan akan kehilangan orang seperti  Pantai Lhoknga.
Dalam seminar tersebut, Ali juga menyinggung sejumlah keberhasilan kalangan pemuda dan pemudi Aceh Besar akhir-akhir ini, seperti memenangkan MTQ tingkat Provinsi Aceh dan PKA –VI.
Ali juga berharap untuk PORA kedepan di Aceh Timur, pemuda dan pemudi Aceh Besar dapat memboyong juga juara umum ke daerahnya.
“Semua ini merupakan karya pemuda-pemudi, maka keterlibatan pemuda dan pemudi dalam membangun bangsa ini harus maju selangkah dari sebelumnya,” pungksa Ali. (Ndar) 

Sumber: http://www.lamurionline.com/2013/10/pemkab-aceh-besar-akan-bangun-fasilitas.html

Pantai Lampuuk nan Indah di Aceh




MENIKMATI terik matahari di pantai berpasir putih, berselancar di ombak laut yang biru, dan menunggu keanggunan matahari terbenam tidak hanya bisa dinikmati di Bali. Aceh punya Pantai Lampuuk yang memiliki semua kelebihan itu. Pantai yang berada di wilayah Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, ini menghadap ke Samudra Hindia.

Lokasi Pantai Lampuuk persisnya di wilayah barat Aceh, sekitar 15 kilometer dari Banda Aceh. Kondisi jalan menuju ke tempat itu cukup bagus sehingga memudahkan wisatawan. Belum ada angkutan umum ke sana sehingga wisatawan harus menggunakan kendaraan pribadi.

Pantai Lampuuk memiliki garis pantai sepanjang sekitar 5 kilometer. Pantai ini berpasir putih bersih nan lembut, air laut berwarna biru kehijauan, dan ombak yang bersahabat untuk para peselancar. Ke arah daratan terdapat pepohonan pinus yang rimbun dan lebih jauh lagi terlihat deretan pegunungan yang hijau.

Ketika Kompas ke pantai tersebut pada 13 Januari lalu, terlihat para pengunjung menikmati suasana pantai tersebut. Ada pengunjung yang berenang sembari bermain ombak, ada yang membuat istana dari pasir, ada yang bermain banana boat, dan ada pula yang sekadar duduk di pinggiran pantai atau di pondokan sembari minum es kelapa muda.

Ketika petang menjelang, pengunjung pun bergegas ke pinggir pantai menanti sang surya turun ke peraduannya. Kebanyakan mereka bersiap dengan kamera masing-masing untuk mengabadikan keindahan alam kala sang surya terbenam di ufuk barat.

Panorama alam itu membuat Pantai Lampuuk menjadi salah satu primadona wisata di Aceh. Apalagi, pantai itu berada di daerah perkampungan yang masih sepi dan tenang. Di sana, wisatawan bisa sesaat melepas penat dari hiruk-pikuk suasana kota yang bising.

Hal itulah yang menjadi alasan Deski Dwi Rizki (19) dan teman-temannya berwisata ke Pantai Lampuuk. Deski mengatakan, ia dan teman-temannya sering ke Pantai Lampuuk, terutama saat liburan.

”Tempat ini sangat cocok untuk refreshing selepas mengikuti ujian semester yang melelahkan,” ujar mahasiswa Jurusan Informatika Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, itu.


KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH Wisatawan menikmati keindahan Pantai Lampuuk di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Aceh, Senin (13/1/2014). Pantai Lampuuk memiliki garis pantai sekitar 5 kilometer yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Pascatragedi tsunami dan perjanjian damai Aceh, sektor pariwisata di Aceh kembali menggeliat.
Tak hanya bagi wisatawan lokal Aceh, keindahan Pantai Lampuuk juga menggoda sejumlah wisatawan dari luar Aceh untuk datang. ”Pantai Lampuuk membuat warga dari luar Aceh, terutama Medan, tidak perlu jauh-jauh ke Bali untuk melihat indahnya pantai berpasir putih dan laut biru yang bersih,” kata Muhammad Rija Juhari (21), warga Medan, Sumatera Utara.

Mulai bangkit

Pascatragedi tsunami dan perjanjian damai Aceh, sektor pariwisata di Aceh memang kembali menggeliat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Aceh, jumlah wisatawan domestik dan mancanegara ke Aceh terus meningkat, khususnya tiga tahun terakhir.

Jumlah wisatawan domestik ke Aceh sebanyak 720.079 orang pada tahun 2010. Jumlah itu terus meningkat menjadi 959.545 orang pada 2011 dan 1.026.800 orang tahun 2012. Adapun jumlah tamu mancanegara ke Aceh sebanyak 20.648 orang pada tahun 2010. Jumlah itu terus bertambah menjadi 28.054 orang tahun 2011 dan 28.993 orang pada 2012.

Momentum itu tidak disia-siakan oleh masyarakat di sekitar Pantai Lampuuk. Mereka membangun bungalo untuk para wisatawan yang ingin beristirahat ataupun bermalam di sana. Ada pula pedagang yang membangun warung dan pondokan di tepian pantai.

Bahkan, di antara para pemilik bungalo, warung, dan pondokan itu ada beberapa warga dari luar Lhoknga. Sinong (35), warga Sigli, Pidie, misalnya, memanfaatkan celah bisnis di daerah itu dengan membangun warung dan pondokan di tepian Pantai Lampuuk sejak tiga tahun lalu.

”Pantai ini semakin ramai sejak tsunami dan perjanjian damai Aceh. Terutama pada Sabtu dan Minggu, tempat ini padat sekali. Untuk menambah pemasukan, saya pun berjualan di sini,” kata Sinong.

Muhammad Zikru (26), warga Desa Lamlhom, Lhoknga, Aceh Besar, menuturkan, memang pascatsunami dan perjanjian damai Aceh, obyek wisata Pantai Lampuuk semakin ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Kondisi itu merupakan cermin betapa menarik keindahan alam Aceh sehingga pasca-terjangan tsunami bisa lekas bangkit dan kembali dikunjungi wisatawan.

”Padahal, tahun 2004, pantai ini merupakan salah satu tempat terparah yang dihantam tsunami. Bahkan, akibat musibah itu, separuh warganya menjadi korban dan hanya satu bangunan yang tersisa, yakni Masjid Rahmatullah Lampuuk,” ujarnya.

SERAMBI/M ANSHAR Peserta Banda Aceh International Kite Festival menaikkan layang-layang di kawasan Pantai Lampuuk, Aceh Besar, Minggu (10/7/2011). Festival yang diikuti peserta dari 11 negara ini merupakan bagian dari rangkaian program visit Banda Aceh Year 2011.
Zikru berharap pemerintah setempat tidak menyia-nyiakan potensi alam dan momentum kebangkitan sektor pariwisata Aceh itu. ”Hingga sekarang, Pantai Lampuuk masih dikelola oleh masyarakat setempat. Akibatnya, pengelolaan obyek wisata ini belum maksimal. Terbukti masih banyak sampah dan kotoran ternak di sekitar tempat ini,” ucapnya.

Zikru juga berharap pemerintah dapat membuat syariah Islam yang bersinergi dengan kebangkitan sektor pariwisata di Aceh. Jangan sampai penerapan syariah Islam menjadi semacam ”musuh” untuk perkembangan sektor pariwisata, terutama obyek wisata pantai.

”Bangkitnya pariwisata secara tidak langsung dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh, terutama yang hidup di daerah sekitar obyek wisata,” katanya. (ADRIAN FAJRIANSYAH)

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2014/02/01/0927081/Pantai.Lampuuk.nan.Indah.di.Aceh

5 Tempat Wisata Ini Paling Direkomendasi Wisatawan


TAHUN kunjungan ke Aceh atau yang dikenal Visit Aceh 2013 masih terus berlanjut, berbagai tempat wisata-wisata yang tidak boleh terlewatkan pun tersebar dimana-mana.
Salah satu situs wisata terbesar di dunia, TripAdvisor merekomendasikan beberapa tempat menarik yang tidak boleh terlewatkan jika berkunjung ke Aceh dari hasil testimonial wisatawan, baik lokal maupun mancanegera.
 

Masjid Raya Baiturrahman

Belum ke Aceh, jika belum bertandang ke masjid yang satu ini. Maskot negeri Serambi Mekah tentunya Masjid Raya Baiturrahman yang megah, di pusat kota Banda Aceh bangunannya begitu indah, terutama bila dinikmati kala senja, langit yang biru memecah adalah objek menarik bagi pencinta fotografi untuk merekamnya.




 

Danau Lut Tawar

Berada di dataran tinggi Gayo, Danau Lut Tawar ini tidak pernah akan sepi pengunjung terlebih pada saat akhir pekan atau hari liburan. Danau yang terletak di timur Kota Takengon, Kecamatan Lut Tawar berada di 1.250m di atas permukaan laut.
Penamaan Danau Lut Tawar dikarenakan luasnya danau seperti laut (lut), namun airnya tidak asin atau tawar. Banyak flora dan fauna yang berkembang di perairannya dan satu yang paling popular adalah spesies ikan depik.
Sambil menikmati keindahan danau, pengunjung juga bisa menyaksikan masyarakat sekitar danau yang bercocok tanam dan memancing. Udara di sekitar danau cukup sejuk dengan suhu udara sekitar 20 derajat celcius.

Museum Tsunami Aceh

 Museum Tsunami Aceh
Selain Masjid Raya Baiturrahman, Aceh juga memiliki ikon wisata lainnya, apalagi kalau bukan Museum Tsunami Aceh yang berada di jalan Iskandar Muda Banda Aceh.
Museum termasuk kategori “The World Tsunami Museum” tersebut memiliki luas 2.500 meter persegi yang berada tepat ditengah ibukota Provinsi Aceh dengan bersebelahan tempat bersejarah Peutjoet/Potjuet/Pocut Kerkhoff, Blang Padang, dan Taman Sari.
Fungsi Museum Tsunami Aceh yang dirancang oleh arsitek Indonesia, Ridwan Kamil ini sebenarnya dipergunakan untuk mengenang korban bencana pada waktu itu, selain itu juga dijadikan sebagai pusat pendidikan bagi generasi muda tentang gempa dan tsunami, serta menjadi pusat evakuasi (mitigasi) bencana bagi warga di Banda Aceh.

 http://i0.wp.com/seputaraceh.com/wp-content/uploads/2012/10/Senja-di-Kampung-Jacky-Chan.jpg?resize=323%2C243

Perumahaan Jackey Chen

Jaraknya tidak jauh dari pusat Kota Banda Aceh, sekitar 17 kilometer arah ke Krueng Raya kita akan menemukan sebuah Kampung persahabatan Indonesia-Tiongkok yang lebih terkenal dengan Kampung Jackey Chan, tepatnya di perbukitan Desa Neuheuen, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar.
Saat kita memasuki pintu gerbang kampung ini tertulis dengan besar Kampung “Persahabatan Indonesia-Tiongkok” lengkap dengan aksara China. Ceritanya pembangunan kampung ini pascatsunami 2004 lalu, disponsori oleh China Charity Federation dan Red Cross Society of China. Dan konon, bintang film laga Jackey Chan adalah satu orang yang ikut serta dalam menggalang dana untuk rumah bantuan bagi korban tsunami ini.

 

Jaboi Geothermal Spot

Gunung api Jaboi, begitulah masyarakat di Kota Sabang menyebutnya. Walaupun demikian, energi panas bumi menjadi daya tarik tersendiri sebagai daerah wisata yang ada di Gampong (Desa) Jaboi Kecamatan Suka Jaya. Anda pun bisa merasakan hawa langsung berupa asam sulfur dan uap air yang saban hari aktif dikeliling oleh pemandangan alam dan hutan yang masih alami.[]


Sumber : http://seputaraceh.com/read/19259/2013/06/30/5-tempat-wisata-ini-paling-direkomendasi-wisatawan